4 Penyebab Kenaikan Harga Bahan Bakar Pertamax

4 Penyebab Kenaikan Harga Bahan Bakar Pertamax

Sekitar awal bulan April, 2022 kemarin Pemerintah Indonesia kembali menaikan tarif harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax. PT Pertamina Indonesia mengumumkan jenis bahan bakar RON 92 tersebut akan disesuaikan dengan ketentuan yang ada. Sehingga serentak seluruh Indonesia akan menyesuaikan kenaikan harga. 

Sebelumnya harga bahan bakar Pertamax sendiri di angka Rp. 9.000 sampai Rp. 9.400 yang naik menjadi Rp. 12.500 hingga Rp. 13.500. Melihat kondisi yang terjadi dengan naiknya harga tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai kenaikan yang terjadi. Nah, melalui artikel kali ini kami akan membahas beberapa ketentuan yang ada, mari kita bahas. 

Naiknya Harga Pertamax

1. Harga Minyak Dunia Naik 

Jika melihat dari beberapa sumber yang ada, faktor utama dari kenaikan harga jenis bahan bakar Pertamax adalah mengikuti harga minyak dunia yang mengalami kenaikan. Apabila melihat pergerakan yang ada, Pertamax termasuk dalam kategori bahan bakar yang belum pernah mengalami kenaikan, sehingga harus menyesuaikan dengan keadaan yang ada. 

Bahan informasi saja, harga dari minyak dunia telah mencapai USD 100 per barel, kemungkinan akan terus meningkat naik sesuai dengan kebutuhan pasar. Karena, beberapa bagian harus melihat faktor produksi dan faktor lainnya. Dengan demikian, Pemerintah Indonesia melalui Pertamina mencoba memberikan penyesuaian dan menaikan harga bahan bakar Pertamax agar tetap relevan dengan keadaan yang terjadi. 

Tahun 2020 kenaikan harga minyak mentah memang tidak sebesar tahun ini, sehingga perlu adanya pemulihan yang strategis. Mau tidak mau, Pertamax ikut imbas dan menjadi bahan bakar yang harus naik. Hal inilah yang menjadi dasar utama atas kenaikan bahan bakar Pertamax tersebut. 

2. Konflik Rusia dan Ukraina

Penyebab pemicu kenaikan harga minyak mentah dunia juga diakibatkan oleh konflik antara Rusia dan Ukraina. Hal ini banyak diungkapkan oleh para ahli, karena perang yang terjadi disana secara tidak langsung mempengaruhi produksi dunia, apalagi Rusia termasuk produsen terbesar atas kepemilikan sumber daya minyak, tidak heran adanya kenaikan harga. 

Tidak tanggung-tanggung kenaikan ini mencapai dua kali lipat dari harga pasaran yang ada, tentunya Pertamina tidak bisa harus memberikan penyesuaian dan subsidi terhadap bahan bakar Pertamax, sehingga kenaikan harga menjadi opsi paling tepat. Tentunya sejauh konflik terus terjadi, maka kemungkinan kedepan minyak akan mengalami kenaikan. 

Bahkan, pemerintah juga telah memberikan sinyal kepada masyarakat untuk siap-siap atas jenis bahan bakar lainnya. Dengan demikian, kemungkinan tidak hanya Pertamax saja yang akan mengalami kenaikan, jenis lainnya seperti Pertalite dan gas juga perlahan akan naik dan mengikuti harga pasar dunia yang sedang terjadi sekarang. 

4 Penyebab Kenaikan Harga Bahan Bakar Pertamax

3. Pertamax Lebih Rendah Keekonomian

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menjelaskan apabila masyarakat tidak perlu reaksi berlebihan terhadap kenaikan harga yang sedang terjadi. Karena pada tahap ini, Pertamax sendiri sebelumnya harga yang ditentukan telah di bawah dari nilai keekonomian yang ada. 

Sebelumnya harga Pertamax yang diberikan Rp. 9.000, yang mana selisih jauh dari harga keekonomian minyak tersebut di angka Rp. 14.526 per liternya. Melihat kebutuhan dan kepentingan yang terjadi, YLKI minta masyarakat tidak perlu berlebihan atas keputusan yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia terhadap kenaikan Pertamax. 

Jika pemerintah tidak menaikan dan tetap mempertahankan harga normal, maka kemungkinan besar PT Pertamina akan mengalami kerugian yang jauh lebih besar. Dampak lainnya APBN akan membengkak, karena harus memberikan nilai subsidi yang jauh lebih besar dari sebelumnya, sehingga keputusan kenaikan harga harus dilakukan. 

4. Kebutuhan Konsumsi Bahan Bakar 

Apabila Anda melihat beberapa data yang ada, maka kebutuhan pemakaian mengenai harga Pertamax sendiri jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Pertalite dan Solar. Karena kedua jenis bahan bakar tersebut relatif lebih terjangkau dan diminati oleh masyarakat. Sedangkan, Pertamax tidak sampai 15 persen pemakaian nasional. 

Hal ini penggunaannya sangat sedikit dan tidak banyak masyarakat yang menggunakan, sehingga benar-benar berbeda dengan lainnya. Kenaikan harga sudah dinilai tepat oleh Pemerintah, karena kebutuhannya juga tidak begitu besar. Alokasi dana bisa diperuntukkan untuk Solar dan Pertalite. 

Jika mengacu pada data yang ada, penggunaan bahan bakar jenis Pertamax hanya di angka 14 persen, sedangkan Pertamina Dex hanya 3 persen. Kedua bahan bakar ini hanya digunakan untuk masyarakat menengah atas dengan spesifikasi bahan bakar yang mengharuskan menggunakan bahan bakar tersebut. 

Sisi lainnya, penggunaan paling besar mencapai 83 persen menggunakan Pertalite dan Solar untuk menunjang mobilitas masyarakat. Sementara ini, kedua bahan bakar ini belum ada kenaikan dan normal. 

Itulah beberapa penyebab kenaikan bahan bakar Pertamax, hal ini melihat dan mengacu dari beberapa permasalahan yang terjadi. Dengan demikian, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menaikan harganya. 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published.